BAB
II
Memahami Konsep Resiko Usaha
A. Pengertian
Resiko
Resiko adalah suatu yang selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya
sesuatu yang merugikan yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Sedangkan
karakteristik resiko secara umum ada dua:
a. Resiko adalah sesuatu ketidak pastian atas
terjadinya suatu peristiwa.
b.Resiko adalah ketidak pastian yang bila terjadi
akan menimbulkan kerugian.
Resiko selalu terjadi bila keputusan
yang diambil dengan memakai kriteria peluang (decision under risk) atau
kriteria ketidak pastian (decision under uncertainly). Untuk menghitung resiko
pada umumnya dipakai nilai yang diperkirakan (expected value) atau angka
penyimpangan (variance).
Efektif
kejadian-kejadian di masa depan dan mengurangi ketidakpastian. Resiko pada
hakekatnya adalah kejadian yang memiliki dampak negatif terhadap sasaran dan
strategi perusahaan. Manajemen resiko terintegrasi merupakan suatu proses
dimana berbagai resiko diidentifikasi, diukur dan dikendalikan di seluruh
bagian organisasi. Kemungkinan terjadinya resiko dan akibatnya terhadap bisnis
merupakan dua hal mendasar untuk diidentifikasi dan diukur. Melalui pengelolaan
resiko terintegrasi, setiap keputusan strategik yang diambil selalu berdasarkan
atas informasi yang valid dan reliable. Dengan demikian keputusan itu
diharapkan mampu mengantisipasi secara
B. Karakteristik
Resiko
Setiap risiko memiliki karakteristik
sendiri yang berbeda satu sama lain, Setiap resiko memerlukan kebijakan
manajemen tertentu atau analisis tertentu untuk pengelolaan dan penanganannya.
Kebanyakan Pengusaha hanya mengenali resiko yang tampak jelas / terlihat atau
paling jelas telihat. Misalnya seorang pemilik restoran yang berencana pergi
untuk suatu tujuan dapat dengan mudah memprediksi resiko tentang keselamatan
kerja para staffnya, dan dapat melakukan pencegahan dengan memberikan instruksi
yang cukup kepada para staff dalam menjalankan pekerjaannya.
Namun untuk risiko dari pesaing baru
mungkin tidak mudah diidentifikasi. Perlu sebuah analisa yang mendalam untuk
mengidentifikas resiko-resiko yang tidak begitu saja mudah terlihat. Sebuah
konsep di munculkan dalam manajemen risiko adalah dengan menggolongkan resiko
kedalam 3 (tiga) jenis:
a) Ketidakpastian
berbasis risiko
b) Bahaya berbasis
risiko.
c) Kesempatan /
Peluang Berbasis Risiko.
C. Ketidakpastian
Berbasis Risiko
Ketidakpastian berbasis risiko adalah
risiko yang terkait dengan peristiwa yang tidak diketahui dan tak terduga.
Jenis risiko ini merupakan resiko force major seperti peperangan, bencana alam,
maupun pristiwa-pristiwa teroris. Intinya resiko ini tidak dapat di
identifikasi bahkan oleh seorang pengusaha yang paling ulung sekalipun.
Ketidakpastian berbasis risiko adalah:
tidak diketahui atau sangat sulit untuk dihitung; seperti bencana / musibah
atau bencana alam; dikaitkan dengan hasil negatif, dan tidak mungkin untuk di
kontrol.
Ketidakpastian berbasis resiko untuk
usaha kecil meliputi: kerusakan fisik atau kerusakan untuk bangunan oleh api
atau banjir; kerugian finansial, kehilangan pemasok penting; kerugian yang
tidak terduga asuransi, dan kehilangan pangsa pasar.
Mempersiapkan ketidakpastian.
Dengan sifatnya, bencana dan tak terduga
yang tak terduga. Seorang pemilik bisnis harus merencanakan sesuai dan
menentukan bagaimana meminimalkan gangguan bisnis.
Ada berbagai metode manajemen untuk meminimalkan
dampak peristiwa yang tidak pasti pada bisnis.
Contohnya adalah:
a) bencana dan
perencanaan darurat
b) perencanaan untuk
pulih dari bencana
perencanaan kelangsungan bisnis untuk
memastikan bisnis dapat terus beroperasi setelah gangguan besar.
D. Bahaya
Berbasis Risiko
Bahaya berbasis risiko adalah risiko
yang terkait dengan sumber bahaya potensial atau situasi dengan potensi untuk
menyebabkan kerusakan. Ini adalah yang paling umum yang terkait dengan bisnis
manajemen risiko, seperti yang ditangani oleh program kesehatan dan
keselamatan.
Bahaya berbasis resiko untuk usaha kecil meliputi:
a) bahaya fisik –
termasuk kebisingan, suhu atau faktor lingkungan lainnya
b) bahaya kimia –
termasuk penyimpanan dan / atau penggunaan yang mudah terbakar, beracun,
beracun atau karsinogenik kimia
c) bahaya biologis –
termasuk virus, bakteri, jamur dan organisme berbahaya lainnya
d) bahaya ergonomis –
termasuk desain ruang kerja yang buruk, tata letak atau kegiatan dan penggunaan
peralatan
e) bahaya psikologis
-yang dapat mengakibatkan bahaya fisik atau psikologis, termasuk intimidasi,
diskriminasi seksual, beban kerja atau ketidaksesuaian spesifikasi pekerjaan
dengan kemampuan karyawan.
E. Kesempatan
/ Peluang Berbasis Risiko
Ada dua aspek utama dari Kesempatan / Peluang
berbasis risiko :
·
Tidak mengambil kesempatan dan
·
Mengambil kesempatan.
Pada aspek yang keduanya adalah
keputusan sadar untuk menerima risiko yang diidentifikasi terkait dengan
kesempatan dan kemudian untuk melaksanakan proses untuk meminimalkan dampak
negatif dan memaksimalkan keuntungan.
Peluang berbasis risiko mungkin atau
mungkin tidak terlihat dengan jelas, sering resiko dapat memiliki hasil positif
atau negatif, dan itu dapat berpengaruh dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Peluang berbasis resiko untuk usaha kecil meliputi: bisnis yang
bergerak ke lokasi baru; membeli properti baru; mengembangkan usaha, dan
diversifikasi lini produk.
F. Pengelolaan
Resiko Terintegrasi
Pada ghalibnya, proses bermula dari
analisa secara akurat baik terhadap lingkungan internal maupun eksternal
perusahaan. Hasil analisa kemudian ditindak lanjuti dengan identifikasi dan
klasifikasi secara jelas, spesifik, dan menyeluruh dari tiap resiko yang ada,
baik dari aspek operasional, pasar, finansial, proyek, maupun regulasi. Salah
satu cara yang sering dilakukan adalah identifikasi melalui pertanyaan what,
when, where, why, how berkaitan dengan kecenderungan dari munculnya resiko. Tentu
saja proses ini tidak cukup dilakukan hanya sekali tembak saja. Semakin lengkap
data yang dikumpulkan dalam proses identifikasi ini akan makin memudahkan dalam
mencari solusi bagi pengendalian setiap resiko yang muncul.
Namun demikian identifikasi saja
tidaklah cukup. Banyak perusahaan dapat melakukan identifikasi resiko dengan
baik sehingga tahu benar resiko apa saja yang akan dihadapi dalam aktivitas
bisnisnya, namun salah dalam melakukan antisipasi. Mengapa demikian? Tidak
jarang ketidakmampuan dalam menentukan mau mulai dari mana penyelesaian masalah
yang timbul menyebabkan keputusasaan. Oleh karena itu diperlukan adanya proses
analisis dan evaluasi. Proses ini membantu memahami kemungkinan terjadinya
resiko beserta dampak dari setiap resiko bila nantinya benar-benar terjadi,
serta mengetahui apakah suatu resiko dapat diterima atau tidak.
Permasalahan yang sering muncul adalah
dalam menentukan prioritas penanganan dan penentuan batas toleransi apabila
resiko terebut tidak dapat dikelola seluruhnya. Batas toleransi ini akan
menentukan seberapa jauh suatu resiko dapat diterima (acceptable). Di sini
kebijakan manajemen dan pimpinan perusahaan memegang peranan penting dalam
mengambil keputusan. Tentu
saja tidak cukup hanya mengandalkan gut feeling semata karena terkait dengan
pencapaian sasaran perusahaan. Dalam pengelolaan resiko bisnis, manajemen
perusahaan dihadapkan pada beberapa pilihan: menghindari resiko, mengurangi
resiko, atau mentransfer resiko yang diidentifikasi akan muncul.
Untuk jenis resiko yang kemungkinan
terjadinya tinggi dan dampaknya besar, pilihan yang dapat diambil ialah
menghindari resiko. Artinya manajemen perusahaan menetapkan bahwa perusahaan
akan menghindari setiap aktivitas yang beresiko tinggi tersebut. Dilain pihak
untuk jenis resiko yang kemungkinannya terjadinya rendah dan dampaknya kecil,
manajemen dapat saja menerimanya dalam batas-batas toleransi yang telah
ditetapkan. Untuk resiko yang kemungkinan timbulnya kecil namun dampaknya
besar, biasanya perusahaan melakukan tranfer dari resiko yang dihadapinya ke
pihak lain, misalnya dengan asuransi, namun perusahaan tetap bertanggung jawab
untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya resiko tersebut.
Tentu saja kebijakan pengelolaan resiko
harus didahului dengan analisa yang menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai
aspek terutama berhubungan dengan cost & benefit yang akan didapat dan
ditanggung perusahaan. Di sini fungsi dari perencanaan, pengawasan, dan kontrol
terhadap kebijakan yang akan diambil terhadap suatu resiko akan sangat
menentukan.
Sebenarnya apa saja yang menjadi faktor
utama dalam penerapan manajemen resiko terintegrasi di suatu organisasi,
terutama bila dikaitkan dengan kinerja perusahaan? Kepemimpinan tidak dapat
dipungkiri berperan sebagai penggerak yang memberikan arah dan pedoman bagi
seluruh anggota organisasi. Dengan demikian komitmen dari pemimpin (leadership
commitment) sangat menentukan dalam sukses tidaknya pengelolaan resiko.
Selain itu dibutuhkan risk management
culture yang kuat sebagai pengikat bagi seluruh anggota organisasi agar dapat
menyatu, seiring sejalan mencapai tujuan. Dalam implementasinya, penerimaan
dari anggota organisasi saja tidaklah cukup, lebih dari itu dibutuhkan
keterlibatan mendalam (deep employee involvement) dari setiap anggota
organisasi yang membuahkan rasa handarbeni. Selain itu integrasi antara
perencanaan dan implementasi juga tidak kalah vitalnya.
Manajemen perubahan, komunikasi, dan
pembelajaran berperan sebagai penopang pengelolaan resiko terintegrasi.
Pemimpin organisasi harus menyadarkan arti krisis atau bahkan bilamana perlu
menciptakan suatu situasi krisis sehubungan dengan pentingnya dilakukan
implementasi manajemen resiko untuk dapat meningkatkan kinerja organisasi.
Dalam tahap demi tahap perubahan dibutuhkan panduan yang baik agar tidak
mengalami kemunduran (set back).
Jelas, komunikasi tidak boleh putus,
baik antar lini dalam organisasi maupun dalam satuan waktu. Patut diingat pula
bahwa proses komunikasi dalam manajemen resiko dilakukan tidak hanya terbatas
di dalam organisasi (inward), akan tetapi juga outward kepada partner dan
stakeholder lain yang terkait.
Yang tidak kalah pentingnya dalam
pengelolaan resiko terintegrasi adalah aspek pengendalian. Para pemimpin
organisasi dituntut untuk menaruh perhatian serius dalam hal ini karena
pengendalian seringkali menjadi titik terlemah dalam praktek pengelolaan
resiko. Pengendalian yang berjalan dengan baik, ditunjang oleh pembelajaran
membuat manajemen resiko terintegrasi sebagai proses dengan penyempurnaan yang
terus menerus. Sebagai imbalannya adalah peningkatan kinerja organisasi secara
signifikan.
G. Pengambilan
Keputusan dan Strategi Pengambilan Resiko
Pembuatan keputusan merupakan fungsi
utama seorang manajer begitu pula bagi seorang wirausahawan. Kegiatan pembuatan
keputusan meliputi mengidentifikasikan masalah, pencarian alternative keputusan
yang baik. Pembuatan keputusan diperlukan pada semua tahapan kegiatan
manajemen, baik pada saat proses pembuatan perencanaan, pada tahap
implementasi, atau operasionalisasi kegiatan maupun pada tahap pengawasan yang
mencakup pemantauan, pemeriksaan, dan penilaian (evaluasi) terhadap
hasil pelaksanaan dari rencana agar hasil yang diperoleh sesuai dengan target
baik dalam jumlah, mutu, biaya, serta penggunaan sumber lainnya secara efektif
dan efisien.
·
Membuat keputusan (decision
making).
Membuat keputusan (decision
making) adalah suatu proses memilih alternatif tertentu dari beberapa
alternatif yang ada. Jadi, membuat keputusan adalah suatu proses memilih antara
berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan. Semakin berpengalaman dalam
pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan diri yang akan semakin
berorientasi pula pada suatu tindakan. Jika seorang wirausaha mampu mengambil
suatu keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, mungkin ia mampu
mengambil suatu keputusan yang menguntungkan sehingga sewaktu-waktu muncul
peluang-peluang bisnis.
Di sini seorang Wirausaha harus cepat
mengambil suatu keputusan agar dapat menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.
Wirausaha yang ingin maju dalam bisnisnya, harus dapat memutar akal dengan
mengandalkan intuisi, ide-ide yang penuh kreatif dan inovatif. Mereka juga
harus memandang persoalan dalam konteks yang lebih luas, sambil mengingat bahwa
keputusan-keputusan utama akan mempunyai akibat-akibat jangka panjang atas
operasi bisnisnya. Seorang wirausaha diharapkan lebih aktif dalam dan lebih
kreatif, karena ia harus membuat keputusan (decision making) tanpa
bantuan data-data kuantitatif (data berbentuk angka-angka) atau dukungan staf
yang berpengalaman.
Keberhasilan seorang Wirausaha di dalam
bisnis, tergantung pada kemampuan membuat keputusan yang meningkatkan
keuntungan bisnisnya pada masa yang akan datang. Kemampuan membuat keputusan
dapat diperoleh dari pengalamannya selama bertahun-tahun. Akan tetapi, dalam
prakteknya pasti ada saja kesalahan-kesalahan, yang harus cepat disadari dan
diambil tindakan pembetulannya.
Dalam perusahaan besar, biasanya
pembuatan dan pengambilan keputusan itu didasarkan atas dasar data-data dan dokumentasi
perusahaan yang terdapat dalam survei, laporan usaha, dan sebagainya. Informasi
ini biasanya telah dihimpun dengan cara yang sudah ditentukan, sesuai dengan
teknik-teknik pemecahan masalah.
Adapun pedoman untuk membuat keputusan, kuncinya
adalah sebagai berikut:
Ø Terlebih
dahulu, tentukan fakta-fakta dari persoalan yang sudah dikenal.
Ø Identifikasi,
bidang manakah dari persoalan-persoalan yang tidak berdasarkan fakta-fakta. Di
bidang yang dikenal inilah, seorang Wirausaha harus menggunakan logika, penalaran,
dan institusinya untuk membuat keputusan.
Ø Keberanian
dan antusiasme sangat diperlukan dalam menerapkan sebuah keputusan
Ø Bersedia
untuk mengambil tindakan agresif dalam menerapkan sebuah keputusan.
Ø Ambillah
risiko yang sedang-sedang saja jika terdapat ketidakpastian yang besar.
Ø Dalam
keadaan tertentu, mungkin lebih baik untuk meneruskan sesuatu yang telah
berhasil pada masa lampau.
Ø Jauhilah
keputusan-keputusan yang akan mengubah secara drastis susunan organisasi yang
sekarang.
Ø Keputusan
perlu diuji cobakan dahulu.
Seorang Wirausaha harus memulai
menerapkan keputusan, semua keragu-raguan dan ketidakpastian haruslah dibuang
jauh-jauh. Jika anda dihadapkan pada alternatif harus memilih, maka buatlah
pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kumpulkan berbagai informasi dan boleh
meminta pendapat orang lain. Setelah itu, ambil keputusan dan jangan ragu-ragu.
Dengan berbagai alternatif yang ada dalam pikiran, para Wirausaha akan dapat
mengambil keputusan yang terbaik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembuatan
keputusan (decision making), diantaranya motivasi, persepsi, dan proses
belajar.
Dalam proses pembuatan keputusan,
kenyatannya ada Wirausaha yang mampu mengambil keputusan berdasarkan
pengalaman, dan ada pula Wirausaha yang berperilaku membuat keputusan secara
otomatis. Jika keputusan diambil berdasarkan pada pengalaman masa lalu,
hendaknnya tergantung juga pada tempat, waktu, pendidikan Wirausaha, dan
sebagainya.
Seorang Wirausaha yang kreatif adalah
yang pandai mengambil keputusan- keputusan yang tepat dalam bisnisnya. Seorang
Wirausaha suksesnya tergantung pada kemampuan mengambil keputusan yang
meningkatkan kemampuan meningkatkan laba bisnis pada masa mendatang. Seorang
wirausaha yang ingin maju sangat tergantung pada ekspentasi masa depan dan keberlanjutan
bisnisnya.
·
Faktor dan pertimbangan membuat
keputusan
Dalam mengelola bisnisnya, para
wirausaha harus membuat keputusan akhir dengan memperhatikan faktor-faktor dan
pertimbangan berikut:
Ø Ukuran
dan kompleksitas bisnis.
Ø Harapan
mengenai pertumbuhan dan perkembangan bisnis.
Ø Fasilitas
jasa yang tersedia di daerah untuk berbagai instalasi sistem.
Ø Kualitas
dan kuantitas dari staf yang tersedia untuk berbagai jenis system dan fasilitas
latihan yang tersedia.
Ø Jumlah
transaksi yang harus diproses.
A.
Faktor-faktor keuangan.
Proses manajemen bisnis seorang
Wirausaha, akan meliputi pengembangan ide dan strategi, pengelolaan orang,
serta pengelolaan sistem untuk menjamin pertumbuhan usaha atau bisnis. Sukses
usaha atau bisnis, tergantung pada pemanfaatan sumber daya uang, pelanggan,
harta fisik, sumber daya manusia, dan waktu yang dipergunakan. Selanjutnya,
kepribadian dan sikap seorang Wirausaha dalam melaksanakan keputusan dapat
mempengaruhi hasil akhirnya. Sekali sebuah keputusan telah diambil, hendaknya
jangan ragu-ragu di dalam menerapkannya.
Para karyawan perusahaan akan
menghormati seorang Wirausaha jika dia menerapkan orientasi kepada tindakan,
dan mereka akan membela keputusan yang diambil. Seorang Wirausaha di dalam
kegiatan bisnisnya, harus mengetahui bagaimana informasi keuangan dan non
keuangan dilaporkan kepada pembuat keputusan. Seorang Wirausaha akan mempunyai
pengendalian atas adanya keputusan orang lain jika ia percaya pada prinsip
bahwa : “kebanyakan keputusan dapat diubah”.
Jika yang terkena pengaruh keputusan itu
para karyawan, maka seorang Wirausaha haruslah arif bijaksana dan
memberitahukan bahwa keputusan itu dapat diubah sekiranya hasil-hasil bisnisnya
tidak dapat dicapai. Dengan membuat keputusan dan melaksanakannya, seorang Wirausaha
harus dapat memonitornya. Memonitor secara efektif dan efisien mengenai
penerapan sebuah keputusan, akan mengungkapkan kelemahan-kelemahan di dalam
bisnisnya.
B.
Faktor membuat keputusan
Membuat keputusan di dalam usaha atau
bisnis adalah pekerjaan yang tidak mudah. Di dalam membuat keputusan, seorang
wirausaha perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan
yang diambilnya.
Berikut ini adalah faktor-faktor dan
pertimbangan yang harus diperhatikan dalam membuat keputusan :
1) Faktor orang
Dalam membuat keputusan, perlu diperhatikan dan
dipertimbangkan orang-orang yang akan merasakan masalah, sebagai akibat dari
adanya keputusan tersebut.
2) Faktor psychologis
Dalam membuat keputusan, seorang wirausaha perlu
memperhatikan dan mempertimbangkan faktor psychologis, baik yang terasa maupun
yang tidak terasa, seperti emosional, pikiran, perasaan, kekecewaan, maupun
pengaruh kejiwaan lainnya.
3) Faktor fisik
Membuat keputusan merupakan pekerjaan mental. Maka
dari itu, di dalam
membuat keputusan, perlu ditransferkan ke arah
tindakan fisik.
4) Faktor sasaran
Di dalam membuat keputusan, seorang Wirausaha harus
memperhatikan dan mendorong arah usaha atau bisnis dalam rangka pencapaian
sasaran yang sudah ditetapkan.
5) Faktor waktu.
Di dalam membuat keputusan, waktu yang efektif dan
efisien harus cukup untuk menganalisis data-data dan permasalahannya.
6) Faktor pelaksanaan
Faktor pelaksanaan merupakan follow-up dari
setiap keputusan yang diambil. Selanjutnya, perlu diingat pula bahwa setiap
keputusan akan menimbulkan suatu rangkaian tindakan di dalam membuat keputusan.
Pembuatan keputusan dalam kehidupan bisnis, tidaklah begitu mudah. Setiap
alternatif di dalam faktor pembuatan keputusan yang ditujukan agar semua pihak
merasa puas, sudah tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Namun, seorang
Wirausaha yang berpengalaman harus mempunyai keberanian dalam membuat dan
mengambil suatu keputusan yang tepat, cermat, dan cepat.
C.
Pertimbangan membuat keputusan
usaha
Pertimbangan-pertimbangan dalam membuat
keputusan, didasarkan atas beberapa hal sebagai berikut :
1) Keputusan yang akan
diambil
Keputusan yang akan diambil, harus dipertimbangkan
masak-masak secara obyektif. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat
keputusan, antara lain:
·
Manfaatnya
·
Pelaksanaannya
·
Orang-orangnya
2) Tindakan-tindakan
Tindakan-tindakan dalam mengambil dan
membuat keputusan yang tepat dan akurat, adalah sebagai berikut:
a) Menilai data-data
Di dalam menilai data-data, seorang
Wirausaha harus mengenal betul persoalan atau permasalahan yang
hendak diputuskan, seperti :
·
Mencari sebab pokok persoalan
·
Memilih data-data yang benar
·
Memilih data-data yang tepat
b) Memilih data-data
Memilih data-data merupakan tindakan
penting dalam pembuatan keputusan. Data terpilih diterapkan ke dalam berbagai
alternative pemacahan masalah yang diharapkan dan dihadapi, seperti :
·
Mencari sebab persoalan pokok
·
Memikirkan kemungkinan untuk memecahkan
persoalan atau mencari jalan keluarnya.
·
Memformulasikan faktor-faktor yang
berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya.
c) Konsekuensi pilihan
Konsekuensi pilihan dalam membuat keputusan adalah :
·
Usaha untuk menilai tiap-tiap pilihan
·
Usaha untuk meramalkan apa yang terjadi
apabila salah satu alternatif yang dilaksanakan.
d) Tindakan pelaksanaan
Tindakan pelaksanaan dalam keputusan
adalah usaha untuk memiliki suatu tindakan yang telah ditentukan oleh salah
satu pilihan seperti:
·
Menetapkan langkah-langkah dalam
tindakan.
·
Pemikiran langkah-langkah untuk melaksanakan
keputusan yang telah diambil.
·
Membuat keputusan terakhir. Walaupun
dalam pengetahuan manajemen terdapat mata pelajaran tentang“problem
identification, problem solving and decision making”, namun keberanian
untuk mengambil keputusan, sangat tergantung pada sifat pribadi Wirausaha
masing-masing. Seorang Wirausaha harus selalu berkata pada dirinya, pasti bisa
mengambil keputusan di dalam menentukan bisnisnya. Tuhan akan selalu beserta
mereka selama para Wirausaha mau berusaha dengan semangat etos kerja yang
tinggi.
·
Jika Anda mampu mengambil keputusan
dalam batas-batas waktu yang masuk akal, Anda akan mampu mengambil keuntungan
sewaktu-waktu timbul peluang-peluang bisnis
·
Semakin berpengalaman dalam pengambilan
keputusan, semakin besar pula kepercayaan pada dirinya dan semakin berorientasi
pada tindakannya.
Pengambilan keputusan merupakan salah
satu fungsi kunci keberhasilan dalam manajemen bisnis. Pada zaman sekarang,
proses pengambilan keputusan baik untuk negara maupun untuk niaga atau bisnis
banyak diteliti orang. Apa sebabnya? Sebab, mereka beranggapan bahwa proses
keputusan itu sangat unik dan erat kaitannya dengan keberhasilan usaha atau
bisnis. Suatu keputusan yang benar, tumbuh dan berkembang dari adanya
pertentangan antar pendapat dan alternatif- alternatif yang saling bersaing.
Dalam proses pembuatan keputusan,
keragu-raguan dan ketidak setujuan sebenarnya masih diperlukan, karena ada
manfaatnya untuk :
·
Merangsang daya imajinasi untuk
mendapatkan jawaban yang benar terhadap suatu masalah.
·
Memperkaya alternatif-alternatif untuk
melahirkan keputusan yang lebih mantap.
·
Memungkinkan penerimaan bersama,
terhadap keputusan yang akan diambil.
Keputusan-keputusan mengenai
masalah-masalah yang kongkret, sebenarnya tidak begitu sulit untuk diambil.
Pertimbangan yang diadakan berkisar pada masalah bertindak atau tidak bertindak
dengan memperhitungkan untung ruginya. Agar seorang Wirausaha mampu membuat
keputusan yang efektif dan efisien, ia harus memiliki beberapa persyaratan,
sebagai berikut.
·
Keterampilan dalam kepemimpinan
·
Keterampilan dalam manajerial
·
Keterampilan dalam bergaul.
Di dalam kegiatan usahanya, wirausahawan
akan dihadapkan pada berbagai resiko yang akan mempengaruhi kelangsungan
usahanya. Oleh karena itu, wirausahawan dituntut untuk memiliki kemampuan dalam
menghadapi resiko, dan metode pengambilan resiko.
H. Cara mengatasi risiko
1. Sebelum
memulai usaha, sebaiknya Anda melakukan riset mengenai hambatan-hambatan yang mungkin akan muncul di tengah perjalanan usaha. Dengan begitu Anda dapat menyiapkan
strategi sedini mungkin, untuk mengantisipasi hambatan di masa depan. Salah
satu risiko yang sering menghambat adalah risiko peningkatan persainganbisnis.
2. Pilihlah
peluang bisnis sesuai dengan skil dan minat yang Anda miliki. Jangan sampai
Anda memulai usaha hanya karena ikut-ikutan tren yang ada. Dengan memulai usaha
sesuai dengan skil dan minat, setidaknya Anda memiliki bekal pengetahuan dan
keahlian untuk mengurangi dan mengatasi segala risiko yang muncul di tengah
perjalanan Anda. Hindari peluang usaha yang tidak Anda kuasai, ini dilakukan
agar Anda tidak kesulitan dalam mengatasi segala risikonya.
3. Carilah
informasi mengenai kunci kesuksesan bisnis Anda. Hal tersebut bisa membantu
Anda untuk menentukan langkah-langkah yang dapat membuat usaha Anda berkembang,
dan langkah apa saja yang tidak perlu dilakukan untuk mengurangi munculnya risiko yang
tidak diinginkan.
4. Sesuaikan
besar modal usaha yang Anda miliki dengan risiko usaha yang Anda ambil. Jangan
terlalu memaksakan diri untuk mengambil peluang usaha yang berisiko besar, jika
modal usaha yang Anda miliki juga masih terbatas.
5. Kesuksesan
bisnis bisa dibangun dengan adanya keteguhan hati yang didukung kreativitas.
Dengan keteguhan hati serta kreativitas mencipta ide-ide baru, kesuksesan usaha
akan mudah dicapai. Jika Anda mampu memenuhi syarat ini, segala risiko yang
muncul, akan bisa Anda atasi dengan baik.
6. Carilah
informasi tentang prospek bisnis tersebut sebelum mengambil sebuah risiko. Saat
ini banyak peluang usaha yang tiba-tiba booming, namun prospek bisnisnya tidak
bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan bulan saja, bisnis tersebut surut
seiring dengan bergantinya tren pasar. Sebaiknya Anda menghindari jenis peluang
usaha seperti itu, karena risikonya cukup besar.
7. Ketahui
tingkat kebutuhan masyarakat akan produk Anda. Semakin besar tingkat kebutuhan
konsumen akan sebuah produk, maka risiko bisnis akan semakin kecil, setidaknya
risiko dalam memasarkan produk.
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas
kita dapat menyimpulkan dalam menjalankan suatu kegiatan wirausaha terdapat
komponen yang penting seperti kita harus memperhatikan risiko yang terdapat
dalam menjalankan usaha, pentingnya memiliki jiwa kreasi untuk usaha kita,
inovasi yang membuat keunggulan produk yang akan dipasarkan serta bagaimana
kiat untuk menghadapi pesaing dalam usaha.
Kesemua pembahasan
tersebut penting untuk dapat kita kuasai sebagai calon wirausaha juga sebagai
modal dalam menjalankan usaha. Selanjutnya penulis berharap atas masukan dan
kritikannya agar tercipta upaya perbaikan
kearah yang lebih baik lagi.
B.
Saran
Demikian yang
dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Saya banyak berharap para pembaca yang
budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya makalah ini dan penulisan
makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi saya pada khususnya juga para pembaca yang budiman
pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://binaukm.com/2011/12/jenis-%E2%80%93-jenis-resiko-yang-timbul-dalam-usaha-dan-
penanganannya/
http://punyasuhanda.blogspot.com/2011/12/risiko-inovasi-kreasi-menghadapi.html